search

Senin, 03 November 2014

Situs Liyangan Kabupaten Temanggung

Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro itu masih ditemukan benda-benda bersejarah lain, di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.400 di atas permukaan air laut tersebut pertama kali ditemukan sebuah talud, yoni, arca, dan batu-batu candi, diduga bahwa situs tersebut sebuah perdusunan karena di antara benda temuan terdapat sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu. (photo: indonesianspaceresearch.blogspot.com)
Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro itu masih ditemukan benda-benda bersejarah lain, di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.400 di atas permukaan air laut tersebut pertama kali ditemukan sebuah talud, yoni, arca, dan batu-batu candi, diduga bahwa situs tersebut sebuah perdusunan karena di antara benda temuan terdapat sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu. (photo: indonesianspaceresearch.blogspot.com)
Entah mengapa akhir-akhir ini saya begitu gemar menulis tentang keunikan sejarah dan mitos lainnya yang ada di kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Bukan karena banyaknya para wanita cantik yang begitu menggoda disana, ya mungkin karena saya memang lama menyimpan rasa cinta dengan kabupaten Temanggung, dan juga karena saat ini saya telah memiliki pendamping hidup yang sangat saya cintai berasal dari kabupaten Temanggung itu sendiri.
Selain itu kabupaten Temanggung ternyata banyak menyimpan 1001 cerita sejarah dan mitos-mitos unik lainnya yang membuat saya semakin penasaran untuk mengungkap keberadaan kabupaten Temanggung, yang juga  begitu banyak menyimpan kisah dan misteri yang menarik perhatian saya.
Sebelumnya saya berusaha mengupas tentang keberhasilan kabupaten Temanggung dengan sumber daya alamnya yaitu pada dunia agro pertanian tembakau, dan belum lama kemudian saya juga berusaha mencoba mengungkap tentang misteri Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kali ini saya akan mencoba menyampaikan sedikit banyak tentang situs-situs prasejarah yang menjadi bagian dari sejarah kabupaten Temanggung dengan kisah dan mitos misterinya.
Pada tulisan saya kali ini, saya juga akan sedikit banyak mengambil referensi dari artikel-artikel lainnya yang dapat dipertanggung jawabkan, termasuk pula saya akan mencoba mensari beberapa sumber terkait yang dapat mendukung tulisan saya kali ini.
Harian Kompas dan beberapa media nasional lainnya pada tanggal 4 September 2012 lalu pernah memuat berita tentang penemuan situ prasejarah yang ditemukan tanpa sengaja oleh penambang pasir asal Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Saat itu ditemukan Situs Liyangan yang berada di bawah Gunung Sindoro di Kabupaten Temanggung pada kedalaman delapan meter di bawah permukaan tanah. Di sekitar candi ditemukan pula bangunan rumah yang mengindikasikan adanya permukiman penduduk dimasa lalu sejarah situs tersebut. Situs Liyangan ditemukan oleh penambang pasir Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung diperkirakan pada tahun 2008.
Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut pada 14-20 April 2009 tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar tujuh hingga 10 meter, berdasarkan hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian menyimpulkan bahwa situs tersebut merupakan sebuah permukiman pada zaman Mataram Kuno. (photo: indonesianspaceresearch.blogspot.com)
Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut pada 14-20 April 2009 tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar tujuh hingga 10 meter, berdasarkan hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian menyimpulkan bahwa situs tersebut merupakan sebuah permukiman pada zaman Mataram Kuno. (photo: indonesianspaceresearch.blogspot.com)
Menurut sejarah penemuan awal Situs Liyangan oleh masyarakat setempat, yaitu pada tahun 2008 masyarakat Temanggung tiba-tiba saja dikejutkan dengan adanya sebuah penemuan candi lagi, di sebuah penambangan pasir tidak jauh dari candi Pringapus, tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari Kecamatan Ngadirejo sekitar 20 kilometer arah barat laut dari kota Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro itu masih ditemukan benda-benda bersejarah lain, di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.400 di atas permukaan air laut tersebut pertama kali ditemukan sebuah talud, yoni, arca, dan batu-batu candi, diduga bahwa situs tersebut sebuah perdusunan karena di antara benda temuan terdapat sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu.
Kemudian terjadi kembali penemuan berupa sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang, profil klasik Jawa Tengah pada kaki candi menandakan candi ini berasal dari abad 9 Masehi.
Yang menjadi misteri dan sangat spektakuler adalah temuan terakhir pada akhir Maret 2010 berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter.
Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang baru tampak pada bagian atapnya, menurut perkiraan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman.
Balai Arkeologi Yogyakarta memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno, dan bisa kemungkinan pada abad 9 Masehi silam tempat tersebut adalah sebuah desa atau dusun kecil yang menghilang dengan terjadinya proses alam seperti tanah longsong atau gempa bumi lainnya. Sehingga tempat tersebut terpendam lonsorann tanah dan pasir atau lahar yang begitu derasnya.
Sejauh ini Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk kepentingan penelitian situs ini telah membebaskan lahan sekitarnya seluas 5.630 meter persegi milik warga setempat yang saaty itu digunakan untuk penambangan galian C.  Penelitian situs ini sangat penting untuk mengungkap misteri sejarah peradaban jaman Mataram Kuno, yang membangun perkampungan di Liyangan. (photo: arcomsoekarno.blogspot.com)
Sejauh ini Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk kepentingan penelitian situs ini telah membebaskan lahan sekitarnya seluas 5.630 meter persegi milik warga setempat yang saaty itu digunakan untuk penambangan galian C. Penelitian situs ini sangat penting untuk mengungkap misteri sejarah peradaban jaman Mataram Kuno, yang membangun perkampungan di Liyangan. (photo: arcomsoekarno.blogspot.com)

Dari hasil penelitian sementara yang berhasil dikumpulkan tim arkeologi, bahwa secara umum, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan  keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk.
Disisi lain juga diperoleh kabar berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi, berdasar gambaran yang lain dari hasil survei penjajakan tersebut Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks, yaitu yang mengindikasikan bahwa lokasi  tersebut adalah situs permukiman atau sebuah desa atau dusun di masanya, selain itu merupakan pula situs ritual, dan situs pertanian.
Kunikan lain dari hasil penemuan selanjutnya adalah luasan imajiner situs Liyangan berdasarkan survei diperkirakan tidak kurang dari dua hektare. Di area tersebut tersebar data arkeologi misteri yang menunjukkan sebagai situs perdusunan masa Mataram Kuno. Mengingat sebagian situs terkubur lahar, masih sangat dimungkinkan luasan situs lebih dari hasil survei.
Hasil penelitian tim Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa data arkeologi berupa sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu merupakan situs perdusunan masa Mataram Kuno sekitar 1.000 tahun lalu. Akan tetapi yang menjadi tanda tanya dan menjadi penelitian yang menarik adalah, kayu-kayu yang menjadi bagian terpenting bangunan di area situs Liyangan tersebut hingga sekarang sebagian nampak masih kokoh tidak termakan zaman.
Justru sebagian kayu-kayu tersebut masih nampak utuh tampa cacat sedikitpun. Hingga sampai sekarang penelitian tentang kayu-kayu tersebut masih dilakukan di  laboratorium Balai Arkeologi Yogyakarta.
Mitos dan misteri Liyangan  beserta kompleksnya menceritakan bahwa dengan penggalian tersebut maka setelah tanah terpotong akan kelihatan secara konstruksi dan diketahui tanah lapisan budaya, maka akan merekonstruksi pula adanya aktivitas manusia masa lampau serta peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada kawasan situs Liyangan, akan tetapi masih diperlukan  metode yang benar untuk mengungkap misteri yang ada pada Liyangan dan kompleksnya tersebut.
Dan mulanya di lokasi penambangan pasir tersebut ditemukan situs yang diduga tempat pemujaan atau ritual lainnya, namun terakhir ditemukan pula bekas bangunan dari kayu dan bambu yang telah menjadi arang dan di bawahnya terdapat talud dari batu putih setinggi 2,5 meter dan terdapat saluran air.
Adanya temuan bangunan saluran air tersebut menandakan bahwa waktu itu sudah ada manajemen air. Melihat konstruksi kayu dengan garapan yang halus dan menggunakan atap dari ijuk menandakan bahwa masyarakat pada masa  itu telah memiliki budaya dan seni arsitektur  yang cukup baik di zamannya.
Namun yang perlu menjadi perhatian semua pihak termasuk pemerintah daerah kabupaten Temanggung adalah penemuan situs Liyangan merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia, sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia, tetapi juga dalam skala internasional, oleh sebab itu perlu dilakukan upaya penyelamatan guna penelitian dunia ilmiah.
Pemerintah kabupaten Temanggung sangat memiliki peranan penting untuk menopang dan mendukung penelitian peninggalan sejarah tersebut. Karena ini juga merupakan bagian aset daerah yang berharga untuk generasi muda mendatang dan bangsa Indonesia, termasuk pula bagian dari situs sejarah dunia yang ada.
*****
Artikel disari dari berbagai sumber (dbs

Temanggung Negeri Temabakau

Temanggung dan Fenomena Tembakau Srintil
Dari sebuah bekas jembatan rel kereta api, diatas Sungai Kuas, sejauh mata memandang sisi barat nampak dua gunung yang saling berjajar. Gunung Sumbing di sisi kiri dan Sindoro di sisi kanan. Kabupaten Temanggung yang diapit 2 gunung dan pertemuan jalur 3 kabupaten, Magelang, Kendal dan Wonosobo. Usai menikmati pemandangan bentang alam dari Jembatan Rel di Kali kuas, langkah kaki menuju pusat kota Temanggung. Tak berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia, ciri khas juga hampir sama, tak ada satupun yang nampak berbeda dan menjadi ciri khas Temanggung. Langkah kaki berhenti disebuah alun-alun untuk sesaat menikmati pusat kota Temanggung, lagi-lagi tak ada sentuhan khas Temanggung.
2 gunung cantik yang berdampingan sepertinya akan memberikan jawaban, apa yang dicari-cari selama ini. Dalam gelap malam dan pekatnya hawa dingin khas pegunungan, langkah kaki terbawa pada sebuah tempat yang tinggi untuk mendapatkan sebuah jawaban. Tanda tanya besar disaat arah berbelok dari RSK Ngesti Waluyo Parakan menuju sisi barat. Tidak mungkin memotret hamparan lampu-lampuk Parakan dan Temanggung yang hanya terlihat samar oleh kabut tipis, namun semakin naik mulai terasa ada petunjuk yang memberikan jawaban.
Aroma tembakau sangat khas, jalanan gelap kini kembali terang benderang disaat memasuki sebuah desa yang bernama Pager Gunung, Kecamatan mBulu. Lereng Gunung Sumbing sisi timur, berdiri sebuah dusun yang bernama Cepit. Dusun ini sangat familiar bagi penggiat alam bebas, karena sebagai pintu masuk "base camp" untuk mendaki Gunung Sumbing dari sisi timur. Disambut hangat oleh mantan kepada desa, untuk dipersilahkan masuk rumah. Pak Purwo Dimulyo, mantan lurah yang menjabat beda tipis dengan mantan presiden Soeharto, yakni 30 tahun. Suguhan makanan ringan dan segelas teh dan kopi menemani obrolan malam itu.
Disela-sela obrolan, suara gaduh dan riuh ada di luar sana. Nampaknya mantan Kepala Desa ini mengerti dan bisa menyiasati situasi, sehingga dengan hangat mengajak untuk melihat apa yang terjadi di luar sana. Mata seolah tak percaya dengan keadaan yang ada, di desa yang sepertinya sepi ternyata kehidupan malam tak beda dengan kota metropolitan. Baru sadar, inilah khas dari Kabupaten Temanggung saat panen raya Tembakau. Aroma tembaku semerbak memenuhi dusun kecil, lampu-lampu terang benderang, ribuan lembar rigen (tempat penjemur rajangan tembakau), suara berisik mesin pemotong tembakau, bertumpuk-tumpuk keranjang tembaku yang sudah dilapisi debok (pelepah pisang kering) dan kecerian penduduk meramaikan malam.
Disela-sela menikmati kehidupan malam di lereng Sumbing, obrolan semakin hangat disaat mendengar kisah pahit manisnya tembakau. Petani tak ubahnya hidup di Las Vegas lereng gunung dengan bermain peruntungan tembakau. Diawali dari awal musim tanam, dengan modal puluhan juta untuk menggarap lahan, beli pupuk dan bibit, hingga biaya pemeliharan. Puluhan hingga ratusan juta menjadi taruhan menjelang bulan Agustus hingga September. Bulan tersebut menjadi jawaban dari impian lembaran rupiah yang dipertaruhkan dilahan tembakau. Hampir 90% penduduk disana bergelut dengan tembakau, bahkan ada yang benar-benar konsen ditembakau, sehingga tidak ada tanaman lain yang dibudidayakan selaian tembakau.
Malam semakin larut, namun pekerjaan belum usai. Mereka yang sibuk merajang tembakau yang kini lebih modern dengan mesin dibanding dahulu yang memakai Gobang "pisau besar". Disisi lain, kaum wanita sibuk menata rajangan Tembakau di atas Rigen, dan kaum pria nampak bersemangat menata dan mengemas Tembakau kering didalam keranjang. Tak kalah menarik, aktivitas dari Grader, atau orang yang bertugas menentukan ukuran kwalitas tembakau. Ditangan Grader tersebut nasib petani ditentukan, seban para Grader yang mendapat mandat langsung untuk menetapkan harga dari pabrik rokok.
Lama-lama diam terpaku kepala pusing juga karena aroma tembakau yang lama-lama menyengat. Rasa pusing di kepala semakin menjadi disaat tangan ditarik masuk dalam ruangan didekat pawon (dapur). Mata melihat, daun-daun tembakau yang diikat dan ditata rapi, ternyata ini adalah tempat untuk pemeraman tembakau yang bertujuan untuk melemaskan daun sebelum dirajang. Kejutan yang sebenarnya baru saja di mulai, saat disodorkan beberapa helai daun tembakau. Isyarat agar hidung ini mencium daun yang nampak membusuk ini seolah menolak, namun entah mengapa begitu mantap menghirup dalam-dalam aromanya. Daun tembakau yang nampak membusuk, berair dan berjamur serta menjijikan ternyata adalah harta karun bagi mereka. Emas hijau yang seksi seperti Srintil yang menjadi anugerah dalam pulung dari Illahi.
Srintil bukanlah sesosok gadis desa yang menjadi primadona pemuda, namun lebih dari sesosok yang seksi yang didampakan semua petani tembakau. Srintil adalah fenomena alam yang di ekspresikan dalam lembaran daun tembakau yang membusuk saat diperam, mengeluarkan aroma manis (madu) dan lebih kaut dibandingkan dengan daun tembakau yang lain. Disaat Si Srintil ini mengering, bentuknya biru kehitaman, menggumpak seperti aspal dan acapkali pecah menjadi serpihan kecil yang semrintil dan jadilah Srintil. Perlakuan istimewa dari pabrik-pabrik rokok, sebab Srintil menjadi bumbu rahasia dalam pembuatan rokok. Aroma khas srintil yang begitu kuat, memberi sensasi kenikmatan yang luar biasa di sisi penikmat tembakau. Srintil ibarat MSG atau Bumbu dari setiap masakan dalam menuru sebatang rokok.
Temanggung sangat bangga, karena satu-satunya penghasil tembaku kwalitas nomer 1 di Indonesia bahkan dunia. Tembakau temanggung ibarat lauk disaat tembaku dari daerah lain menjadi nasi yang kadang pulen yang kadang seperti nasi aking. Komposisi rokok, maka tembakau Temanggung cukup 10% dari isi rokok, berarti sungguh luar biasa Tembakau dari lereng Sindoro dan Sumbing. Kisah si Srintil belum berhenti, namun kini menjadi incaran Pabrik Rokok. 1 ons tembakau srintil yang di giling menjadi serbuk halus sdah cukup untuk memberi aroma 1 ton tembakau.
Disisi lain, Srintil memang menjadi primadona bagi siapa saya yang terjun dalam lingkaran Tembakau. Harga tawar yang menggiurkan dari 500 ribu hingga 800 ribu harga yang di patok untuk Srintil setiap kilogramnya. Disaat tembakau lain dari Grade A cuma 30 ribu, grade B 60-70 ribu dan C 120an ribu, namun Srintil langsung melonjak di Grade F ke atas. Harga yang fantastis untuk si seksi dari lereng Sindoro dan Sumbing, yang terlihat tak sebanding dengan morfologinya yang busuk, dan becek berair, namun itulah madu yang mengalir dari lembaran daun nikotin.
Srintil bagi penduduk setempak adalah berkah dari Tuhan lewat keberuntungan kejatuhan nDaru. Memang tidak ada yang bisa menduga, tembakau siapa dan di lahan mana yang akan bisa menghasilkan Srintil. Srintil terlihat disaat pemeraman dan tembakau berubah tekstur, aroma dan warnanya. Belum sampai disitu, Srintil hanya terdapat di Sindoro dan Sumbing sisi utara, selain itu tidak ada. Sungguh hot spot yang luar biasa bagi pemilik lahan diarea yang menjadi si Seksi ini tumbuh dan memberi rejeki bagi meraka yang bertaruh di lahan tembakau.
Secara ilmiah, fenomena Tembakau srintil bukan barang baru untuk diteliti. Beragam latar belakang ilmu mencoba menguak misteri Srintil, bahkan biaya besar digelontorkan pabrik rokok untuk mencari tahu siapa Dewi Srintil tersebut. Sampel tanah dan tembakau dikaji secara ilmiah dan di uji cobakan, tetap saja nihil hasilnya. Isolasi gen yang mengeksprsikan Srintil belum juga membuahkan hasil. Banyak faktor yang berkontribusi dalam mensintesis Dewi Srintil. Secara geografis, sudah pasti menjadi faktor utama, selain itu faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, nutrisi tanah menjadi aktor yang penting. Dewi Srintil menampakan diri saat diperam, lewat sebuah biokonversi daun hijau berubah menjadi kuning menjadi cokelat dan gelap, lalu berair dan mengeluarkan aroma khas. Sudah pasti proses fermentasi ini melibatkan organisme pengurai seperti jamur, khamir dan bakteri yang beasosiasi menghasilkan enzim-enzim tertentu untuk mengkonversi material organik. Kompleksnya sintesis Srintil ini memang menjadi kajian menarik untuk terus diteliti guna menguak tabir misterius seperti kabut pekat Sindoro Sumbing. Namun, nampaknya Srintil tetap menjadi misteri dan biarlah Tuhan dan petani yang beruntung yang tahu dan menikmatinya. P
Eksotisme dan fonemena Srintil membius diri dalam kubangan kenikmatan nikotin dan tidak terasa dini hari sudah terlewat. Geliat petani masih belum berhenti, dan lantunan dalam untaian doa harapan dikumandangkan agar esok cerah, tembakau kering dalam sekali jemur. Perjudian belum usai disaat harga tembakau masih di goyang para penjual jasa yang mengahantarkan ke gudang pabrik rokok. Begitu juga dengan pabrik rokok yang memegang kendali permainan untuk perjudian ini. Pemerintah seolah tak berkuasa untuk ranah di lahan tembakau, sebab tidak ada regulasi harga agar stabil dan perlindungan terhadap petani. Sebuah bisnis besar di negeri ini yang memberikan sumbangan terbesar lewat cukai, namun apakah bisa dinikmati oleh petani tembakau?. Petani tetaplah petani yang terus bekerja walau dengan spekulasi, namun Dewi Srintil yang akan menentukan kepada siapa Pulung itu jatuh. Temanggung metropolitan disisi timur Sindoro dan sumbing di bulan Agsutus hingga September, seharum Srintil primadona kota tembakau.

Makanan Khas Temanggung

1. JAJAN PASAR
Nama Produk Usaha : CETIL
Kontak Person : BUDI
Alamat : Banyu urip wetan Rt 4/Rw 4 Temanggung
Tempat Jualan : Utara pasar Kliwon sebelah  di Jalan Kolonel Sugi yono  buka jam 14.30 WIB- 18.00 WIB
Jenis Produk : CETIL, Jenang Jagung, Ketan Salak, Berdung (jagung)
Volume Produksi : Satu tampah /hari + pesanan konsumen  dengan harga Rp 170.000 terdiri dari semua jenis produk


2. KUPAT TAHU
Di Temanggung terdapat  7 warung Tahu Kupat, adapun salah satunya adalah :
Nama Usaha  : Kupat  Tahu
Kontak Person : Sugiyanto
Alamat Usaha : Jl.Gilingsari –  Pandean Temannggung
Jenis Produk : Kupat Tahu
Volume Produksi  : 15  Blabag tahu putih/hari  sekitar 150 - 200 pengunjung/hari  mulai buka jam 08.00 WIB
Harga per porsi : Rp. 5000,-
Jumlah tenaga kerja : 8 orang

3. UCENG DAN DELE GORENG
Nama Usaha : ”Barokah”
Kontak Person : Rumadi
Alamat Usaha : Jl.Ds. Kedungguling, Bengkal -Raya Kranggan No 159 Temanggung,  Tlp.081328854038
Jenis Produk : Uceng,(ikan tangkapan dari sungai), dele goreng, tahu  goreng, kripik kacang, ketela goreng, balok,jagung goreng.
Kapasitas Produksi :- Uceng goring 250 Kg/tahun nilai uang Rp 43.750.000  bahan baku uceng mentah sebesar  1 ton/th  dengan  nilai uang   per kg Rp 20.000,-  = Rp. 20.000.000
- Kedelai goreng =  Rp. 20.000 Kg/Th
Jumlah Tenaga Kerja : 3 orang
Pemasaran : Temanggung, Magelang

4. BEBEK GORENG
Nama Usaha : Warung Makan Bebek Goreng
Kontak Person : FITRI BUDI ASTUTI
Alamat Usaha : Jl.Tembus –Kranggan-Pringsurat Km 2
Jenis Produk : Bebek Goreng
Volume Produksi : 960 Kg per tahun Rp 60.000.000,- Bahan Baku 960 Kg  Rp 28.000.000,- rata-rata per hari potong bebek 80 ekor
Harga per porsi : Rp 12.500,-
Jumlah Tenaga Kerja : 8 orang

5. BRONGKOS KAMBING
Nama Usaha : Brongkos Kambing
Kontak Person : Pujo Handoko
Alamat Usaha : Menggoro – Kecamatan Tembarak, Hp. 085 281 801 376
Volume Produksi : 6.480 Kg Rp 226.800.000,
Tenaga Kerja : 3 orang
Harga/porsi : Rp 35.000,- untuk 4 orang


6.  SOP BUNTUT
Nama Usaha : Tenda Biru
Kontak Person : Suwoto / Wiwik
Alamat Usaha : Dr.wahidin – Kecamatan Temanggung, Hp. 081328623488
Volume Produksi : 200 mangkok/hari dan beras 25 kg
Jenis Produk yang dijual : Sop buntut, koyor, empis-empis,rawan, brongkos dll
Harga /porsi : Rp 16.000,-

7. Rica-Rica Entok  : Buka 24 Jam Non stop
Nama Usaha : Nikki
Kontak Person : Nurkolis/ Bu Sholeh
Alamat Usaha : Jl. Gatot Subroto No 1, Hp. 085743060555
Volume Produksi : 20 entok
Jenis Produk yang dijual : Rica-rica entok, Sop buntut, koyor, empis-empis, brongkos, opor ayam dan aneka sayur, dll
Jumlah konsumen/hari : sekitar 1200 orang (lokal maupun luar daerah)
Jumlah tenaga kerja  : 13 Orang

8. SOTO PRINGGADING
Di  Kabupaten Temanggung ada sekitar 15 lebih warung makan yang menyediakan menu soto. Banyak dikunjungi karena selain harga terjangkau di sukai semua umur. Ada Soto Kudus (Jl raya Kedu), Soto Geleh (seberang kali galeh parakan), Soto Ijo, Soto Sadali (Pasar lor) dll. Salah satu yang terkenal :
Nama Usaha : Soto Pringgading
Kontak Person : Metania Hindarto
Alamat Usaha : Jl Sri suwarno dan Jl Jend.Sudirman Temanggung,
Hp. 0085868696700
Volume Produksi : 200 mangkok/hari
Jenis Produk yang dijual : Soto, tempe goreng, bergedel, telor, sate kerang dll
(tempe goreng/hari sekirar 100 buah)
Harga /porsi : Rp 2.500,-

9. BAKSO ULEK
Bakso Uleg khas Temanggung adalah pedas karena cabe langsung  diuleg di mangkok sesuai selera. Salah satu yang banyak pengunjung bakso uleg milik Pak Amat (Dekat Bank Bina Arta dan satu lagi dikelola anaknya didepan SMP Negeri 2 atau depan BRI.



10. PECEL KENCI PIKATAN
Jika datang di Pemandian Pikatan Water Park selain berekreasi juga renang  terasa belum lengkap kalau belum menikmati sambel pecel dan daun kenci menjadikan ciri khas disana. Salah satunya milik  warung adalah milik mbok cemplok. Warung Mbak Tos juga terkenal yang terletak di belakang Jl.  Diponegoro, Klewongan Parakan dengan plus nasi urap, pecel dan jeroan sapi


11. EMPIS-EMPIS
Dengan ciri khas pedas dibuat dari tempe bungkil dan cabe hijau  hampri semua rumah makan/warung tersedia sayur tersebut.
Mbok Benik (Padangan), Bioskopan, Mbak Ning (Alon-alon),Warung Pojok (Depan terminal lama), Mbok Cemplok (Pikatan) dll.

Asal Usul Kota Temanggung Jawa Tengah

Sejarah Temanggung selalu dikaitkan dengan Raja Mataram Kuno yang bernama Rakai Pikatan. Nama Pikatan sendiri dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah yang berada pada sumber mata air di Desa Mudal Kecamatan Temanggung. Di sini terdapat peninggalan berupa reruntuhan batu-bebatuan kuno yang diyakini petilasan raja Rakai Pikatan. Sejarah Temanggung mulai tercatat pada Prasasti Wanua Tengah III Tahun 908 Masehi yang ditemukan penduduk dusun Dunglo Desa Gandulan Kecamatan Kaloran Temanggung pada bulan November 1983. Prasasti itu menggambarkan bahwa Temanggung semula berupa wilayah kademangan yang gemah ripah loh jinawi dimana salah satu wilayahnya yaitu Pikatan.

Di sini didirikan Bihara agama Hindu oleh adik raja Mataram Kuno Rahyangta I Hara, sedang rajanya adalah Rahyangta Rimdang (Raja Sanjaya) yang naik tahta pada tahun 717 M (Prasasti Mantyasih). Oleh pewaris tahta yaitu Rake Panangkaran yang naik tahta pada tanggal 27 November 746 M, Bihara Pikatan memperoleh bengkok di Sawah Sima. Jika dikaitkan dengan prasasti Gondosuli ada gambaran jelas bahwa dari Kecamatan Temanggung memanjang ke barat sampai kecamatan Bulu dan seterusnya adalah adalah wilayah yang subur dan tenteram (ditandai tempat Bihara Pikatan). Pengganti raja Sanjaya adalah Rakai Panangkaran yang naik tahta pada tanggal 27 November 746 M dan bertahta selama kurang lebih 38 tahun. Dalam legenda Angling Dharma, keratin diperkirakan berada di daerah Kedu (Desa Bojonegoro).
Di desa ini ditemukan peninggalan berupa reruntuhan. Di wilayah Kedu juga ditemukan desa Kademangan. Pengganti Rakai Panangkaran adalah Rakai Panunggalan yang naik tahta pada tanggal 1 april 784 dan berakhir pada tanggal 28 Maret 803. Rakai Panunggalan bertahta di Panaraban yang sekarang merupakan wilayah Parakan.
            Di sini ditemukan juga kademangan dan abu jenasah di Pakurejo daerah Bulu. Selanjutnya Rakai Panunggalan digantikan oleh Rakai Warak yang diperkirakan tinggal di Tembarak. Di sini ditemukan reruntuhan di sekitar Masjid Menggoro dan reruntuhan Candi dan juga terdapat Desa Kademangan. Pengganti Rakai warak adalah Rakai Garung yang bertahta pada tanggal 24 januari 828 sampai dengan 22 Pebruari 847. Raja ini ahli dalam bangunan candid an ilmu falak (perbintangan). Dia membuat pranata mangsa yang sampai sekarang masih digunakan. Karena kepandaiannya sehingga Raja Sriwijaya ingin menggunakannya untuk membuat candi. Namun Rakai Garung tidak mau walau diancam.
Kemudian Rakai Garung diganti Rakai Pikatan yang bermukim di Temanggung. Di sini ditemukan Prasasti Tlasri dan Wanua Tengah III. Disamping itu banyak reruntuhan benda kuno seperti Lumpang Joni dan arca-arca yang tersebar di daerah Temanggung. Di sini pun terdapat desa Demangan.
            Dari buku sejarah karangan I Wayan badrika disebutkan bahwa Rakai Pikatan selaku raja Mataram Kuno berkeinginan menguasai wilayah Jawa Tengah. Namun untuk merebut kekuasaan dari raja Bala Putra Dewa selaku penguasa kerajaan Syailendra tidak berani. Maka untuk mencapai maksud tersebut Rakai Pikatan membuat strategi dengan mengawini Dyah Pramudha Wardani kakak raja Bala Putra Dewa dengan tujuan untuk memiliki pengaruh kuat di kerajaan Syailendra. Selain itu Rakai Pikatan juga menghimpun kekuatan yang ada di wilayahnya baik para prajurit dan senapati serta menghimpun biaya yang berasal dari upeti para demang.                                                                                               
            Pada saat itu yang diberi kepercayaan untuk mengumpulkan upeti adalah Demang Gong yang paling luas wilayahnya. Rakai Pikatan menghimpun bala tentara dan berangkat ke kerajaan syailendra pada tanggal 27 Mei 855 Masehi untuk melakukan penyerangan. Dalam penyerangan ini Rakai Pikatan dibantu Kayu Wangi dan menyerahkan wilayah kerajaan kepada orang kepercayaan yang berpangkat demang. Dari nama demang dan wilayah kademangan kemudian muncul nama Ndemanggung yang akhirnya berubah menjadi nama Temanggung.
            Catatan sejarah Temanggung berasal dari :
1. Prasasti Wanua Tengah III, Berkala arkeologi tahun 1994 halaman 87 bahwa Rakai Pikatan dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 27 Mei 855 M.
2. Prasasti Siwagrha terjemahan Casparis (1956 – 288), pada tahun 856 M Rakai Pikatan mengundurkan diri.
3. Prasasti Nalanda tahun 860 (Casparis 1956, 289 – 294), Balaputra dewa dikalahkan perang oleh Rakai Pikatan dan Kayu Wangi.
4. Prasasti Wanua Tengah III, Berkala Aekeologi Tahun 1994 halaman 89, Rakai Kayu Wangi naik tahta tanggal 27 Mei 855 M.
5. Dalam buku karangan I Wayan Badrika halaman 154, Pramudya Wardani kawin dengan Rakai Pikatan dan naik tahta tahun 856 M. Balaputra Dewa dikalahkan oleh Pramudha wardani dibantu Rakai Pikatan (Prasasti Ratu Boko) tahun 856 M.
            Catatan diatas dapat disimpulkan bahwa Rakai Pikatan mengangkat putranya Kayu Wangi. Selanjutnya mengundurkan diri dan meninggalkan Mataram untuk kawin dengan Pramudha Wardani. Dalam peperangan melawan Balaputra Dewa, Rakai Pikatan dibantu putranya Kayu Wangi.